Penyakit Kista

Anda tentunya sudah sering sekali mendengar tenteng Penyakit Kista ini, tetapi masih banyak masyarakat terutama wanita yang sering sekali menderita penyakit kista. Hal ini dapat disebabkan karena kurangnya pengetahuan mengenai jenis penyakit kista ini, dari gejala, penyebab dan cara pengobatan yang tepat tidak banyak masyarakat yang mengenalnya. Sehingga kista terus berkembang dan susah untuk diatasi.

Berikut informasi mengenai gejala, penyebab dan pengobatan penyakit kista.

Apa Sebenarnya Penyakit Kista Itu ?

Kista adalah tumor jinak di yang paling sering ditemui. Bentuknya kistik, berisi cairan kental, dan ada pula yang berbentuk anggur. Kista juga ada yang berisi udara, cairan, nanah, ataupun bahan-bahan lainnya.

Kista termasuk tumor jinak yang terbungkus selaput semacam jaringan. Kumpulan sel-sel tumor itu terpisah dengan jaringan normal di sekitarnya dan tidak dapat menyebar ke bagian tubuh lain. Itulah sebabnya tumor jinak relatif mudah diangkat dengan jalan pembedahan, dan tidak membahayakan kesehatan penderitanya.

Berdasarkan tingkat keganasannya, kista terbagi dua, yaitu non-neoplastik dan neoplastik. Kista non-neoplastik sifatnya jinak dan biasanya akan mengempis sendiri setelah 2 hingga 3 bulan. Sementara kista neoplastik umumnya harus dioperasi, namun hal itu pun tergantung pada ukuran dan sifatnya.

Selain pada ovarium kista juga dapat tumbuh di vagina dan di daerah vulva (bagian luar alat kelamin perempuan). Kista yang tumbuh di daerah vagina, antara lain inklusi, duktus gartner, endometriosis, dan adenosis. Sedangkan kista yang tumbuh di daerah vulva, antara lain pada kelenjar bartholini, kelenjar sebasea serta inklusi epidermal.

Apa Yang Menyebabkan Kista Itu Terjadi ?

Untuk peneybab utamanya sampai sekarang belum dapat terungkap tetapi ada beberapa penyebab umum yang dapat memicu timbulnya penyakit kista :

    Polusi
    Gaya hidup tidak sehat
    Siklus menstruasi yang selalu tidak teratur
    Lemak tubuh bagian atas yang semakin meningkat
    Menstruasi dini (biasanya orang yang menstruasinya mulai usia 11 tahun, atau kurang dari 11 tahun)
    Kemandulan
    Ketidakseimbangan hormon
    Terapi kanker payudara (terapi tamoxifen atau soltamox)
    Penggunaan pil KB (karena pil ini bekerja dengan cara menghentikan produksi ovum di indung telur)
    Menopause (terutama saat sang wanita berusia 50 – 70 tahun).

Apa Cara Pengobatan Pada Penderita Penyakit Kista ?

Untuk pilihan pengobatan pada penderita kista dapat dilakukan dengan beberapa cara diantaranya:

Operasi Pengangkatan Kista

Permasalahan akan  timbul bila kista akan tumbuh menjadi lebih besar seiring dengan pertumbuhan janin selama kehamilan. Hormon-hormon pada masa kehamilan itulah yang dapat menjadi pemicu bertambah besarnya kista. Kista dapat menyebabkan letak janin di dalam rahim menjadi abnormal. Seharusnya memasuki trimester akhir, posisi janin sudah menuju jalan lahir. Namun karena terdesak oleh kista maka letaknya jadi melintang atau miring. Hal ini mengakibatkan terganggunya proses kelahiran.

Pengangkatan kista bergantung dari besarnya kista dan usia kehamilan. Bila saat ukurannya mencapai 3-4 cm keberadaan kista sudah diketahui sejak dini maka dapat dilakukan pengangkatan kista saat kehamilan sudah memasuki usia 14 minggu.

Pengangkatan kista pada usia kehamilan 14 minggu ini relatif aman sebab plasenta sudah terbentuk dengan sempurna sehingga dapat mengambil alih fungsi ovarium untuk mempertahankan hormon-hormon pada masa kehamilan. Sebaliknya, bila pengangkatan kista ditunda justru berisiko ibu mengalami keguguran bila kista pecah atau terpuntir. Karena, kondisi itu dapat menimbulkan rasa melilit dan nyeri yang sangat.

Namun bila kista baru diketahui saat kehamilan trimester kedua sebaiknya dilakukan observasi atau pengamatan terlebih dahulu. Bila ukurannya tetap (karena posisinya sudah tertekan oleh uterus), maka pengangkatan kista (operasi) dapat dilakukan setelah melahirkan. Apalagi bila ini adalah kehamilan yang pertama bagi si ibu dan ingin melahirkan normal. Namun dalam kondisi darurat, bila tiba-tiba kista pecah, umpamanya, operasi pengangkatan harus segera dilaksanakan. Dan yang pasti pengangkatan kista ovarium pada saat hamil, tidak akan mengganggu janin (keguguran). Karena tempat janin dan kista adalah berbeda. Janin bertempat pada rahim, sedangkan kista berada pada indung telur (ovarium). Pengangkatan kista dilakukan untuk menyelamatkan janin, karena bila kista tidak diambil akan terjadi komplikasi selama kehamilan

Komoterapi Pada Penderita Kanker

Kemoterapi merupakan terapi kanker yang melibatkan penggunaan zat kimia ataupun obat-obatan yang bertujuan untuk membunuh/menghabisi sel-sel kanker dengan cara meracuninya. Kemoterapi telah digunakan sebagai standard protocol pengobatan kanker sejak tahun 1950.

Saat ini terdapat lebih dari 50 obat-obatan kemoterapi yang digunakan. Obat-obatan ini dimasukkan ke dalam tubuh melalui infuse intravena, suntikan langsung (pada otot, dibawah kulit atau pada rongga tubuh), ataupun dalam bentuk tablet.

Tergantung jenisnya, kemoterapi dapat diberikan setiap hari, seminggu sekali, tiga minggu sekali bahkan sebulan sekali. Biasanya antara satu siklus kemo dengan siklus kemo lainnya diberikan jarak/jeda bagi tubuh untuk pemulihan.

Kemoterapi pada pengobatan kanker

Pada pengobatan kanker, kemoterapi dapat diaplikasikan dengan 3 cara, yaitu:

  1. Kemoterapi sebagai terapi utama (primer) yang memang ditujukan untuk memberantas sel-sel kankernya.
  2. Kemo sebagai terapi ajuvan (tambahan) untuk memastikan kanker sudah bersih dan tak kembali. Biasanya diberikan pada pasien yang baru diangkat tumornya melalui pembedahan ataupun radioterapi.
  3. Kemo sebagai terapi paliatif, yaitu hanya bersifat mengendalikan pertumbuhan tumor dan bukan untuk menyembuhkan/memberantas habis sel kankernya. Terapi ini biasanya dilakukan untuk pasien dengan stadium lanjut (4B) dimana kanker sudah menyebar ke organ-organ lain dalam tubuh.

Sebelum kemoterapi dilakukan, biasanya dokter akan mengadakan serangkaian pemeriksaan untuk mengetahui kondisi penyakit pasien, kondisi kesehatan pasien secara umum, termasuk kesehatan fungsi hati dan ginjal pasien.

Efek samping kemoterapi

Kemoterapi bukan tanpa efek samping. Jon Barron, seorang pakar teknologi pangan dari Harvard dam MIT, dalam artikelnya yang berjudul,’Chemoterapy, An Interesting Choice,’ menuliskan bahwa kerugian utama kemoterapi adalah bahwa obat-obatan ini tidak hanya membunuh sel-sel kanker yang sedang membelah diri, tetapi semua sel yang membelah diri. Sel-sel sehat yang membelah diri jauh lebih cepat dari sel-sel kanker juga tidak luput.

Sebagai contoh, terdapat probabilitas yang tinggi bahwa sel-sel sistem imun tubuh yang cepat membelah diri juga akan mati, yang menyebabkan tubuh kita tidak mampu memerangi penyakit-penyakit lain yang timbul sebagai akibat dari perawatan.

Sel-sel lainnya yang juga tumbuh cepat adalah sel-sel dari sumsum tulang yang memproduksi sel-sel darah, sel-sel di dalam perut dan usus, dan sel-sel folikel rambut, itulah sebabnya mengapa pasien (kemo) biasanya mengalami kerontokan rambut.

Lebih lanjut, dalam kedua peristiwa ini, obat-obatan yang tadinya bertujuan untuk meracuni sistem, justru menciptakan rasa sakit pada pasien. Racun (dari obat-obatan kemo) menyerang sel sel darah dan menyebabkan keracunan darah. Sistem pencernaan menjadi shock tidak terkontrol dan menyebabkan pasien mual, diare, tidak nafsu makan, (perut) kram dan berangsur melemah.

Beberapa obat dapat mengelupaskan seluruh lapisan usus. Organ reproduksi terpengaruh dan dapat menyebabkan kemandulan. Otak kehilangan memori. Rambut rontok. Penglihatan dan pendengaran menurun. Ginjal rusak. Luka muncul di mulut dan tenggorokan. Tubuh berdarah dan mudah memar serta tidak dapat melawan infeksi.

Seringkali fisik pasien tidak kuat sehingga tidak dapat melanjutkan pengobatan. Untuk itu maka saat ini para ahli riset kanker telah berupaya dan berlomba lomba untuk menciptakan obat-obatan baru yang lebih efektif namun relative memiliki efek samping yang lebih minimal bagi kualitas hidup pasien.

Solusi Pengobatan denan Ekstrak Herbal

Esktrak herbal pada Gamat emas sebagai obat kista alami yang mengandung banyak zat gizi seperti protein, mineral, omega 3 dan Bio Active Element. Dalam sejarah tradisional China Gamat telah digunakan sejak lebih dari 1000 tahun yang lalu untuk membantu mengatasi keluhan seperti menyembuhkan luka, meredakan rasa sakit di persendian, memperlancar sirkulasi darah dan secara umum dikonsumsi sebagai hidangan spesial untuk menjaga kesehatan karena dinilai sebagai ginseng laut.

Menurut Dr Tagor Sidabutar SpOG, dari Rumah sakit PGI Cikini, Jakarta, mekanisme pengobatan kista dilakukan dengan membangkitkan antitumor lebih dominan. Itu berarti sejalan dengan Tong Y dari divisi Farmakologi, Chinesse Academy of Science, Shanghai, China yang meneliti efek antitumor pada teripang. Kandungan Saponin gamat sebutan teripang di Malaysia bernama Philipnopside mencegah pembentukan pembuluh darah mikro baru pada sel tumor. Akibatnya, sel tumor tidak mendapat pasokan nutrisi sehingga sel urung berkembang dan akhirnya mati.

Di Rusia, Popov AM, periset Russian Academy of Science, Vladivostok, juga mengukuhkan teripang mampu mengatasi tumor lantaran kandungan Glikosidanya. Sehingga, jika teripang diasup secara rutin, tumor lenyap.

Selain aman untuk dikonsumsi karena terbuat dari bahan herbal alami, Jelly Gamat Luxor meliliki sifat anti tumor dan mampu menonaktifkan perkembangan sel tumor, merontokan sel tumor tanpa merusak jaringan sekitarnya juga memblokir pertumbuhan sel tumor, selain itu gamat juga memiliki kandungan mineral selenium yang mampu meningkatkan daya tahan tubuh, kandungan omega3 yang mampu mencegah terjadinya penggumpalan darah dan mengurangi kekentalan darah.

Teripang merupakan hewan laut yang secara tradisional, turun temurun telah digunakan sebagai pengobatan tradisional khususnya oleh bangsa melayu dan china. Mereka mengkonsumsi gamat untuk menguatkan tubuh sekaligus memulihkan kondisi tubuh dari penyakit seperti hipertensi, luka, diabetes, dan asma.

0 komentar:

Poskan Komentar